Kamis, 26 Februari 2015

Kepastian Sebuah Ketulusan

Desa Tobotani, Lembata, NTT


“Bersabarlah dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan. Terus meneruslah berbuat baik ketika di kampung atau di rantau. Jauhilah perbuatan buruk dan ketahuilah pelakunya pasti di ganjar di perut bumi dan di atas bumi”.
Petikan dari pembuka novel “Ranah Tiga Warna” karya A.Fuadi.

Kemudian cobalah baca Al Quran Surah Al Mukminun ayat 29, di situTuhan menasehatkan kepada Nuh untuk berdoa.
“ Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang di berkati, dan engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat”
Memang indah petikan ayat Allah di atas, karena itu merupakan sebuah doa, oleh karena itu berdoa, untuk selalu di tempatkan di tempat yang di berkahi.
-----------------------------------------------
Memang terkadang menuju ke negeri yang tak pernah di mimpikan, dan tak pernah terbayangkan akan berada di sana, kekhawatiran sering mengganggu pikiran dan jiwa, karena jangankan tahu di mana di tempatkan, Dimana daerah itu berada pun belum tahu, bagaimana rupa dan bentuk aslinya, dan sungguh tidak tahu di mana nanti akan di tempatkan, saat pertama akan tiba di negeri pengabdian ini. Namun ketahuilah bahwa, semuanya sungguh sebuah kejutan.
Kejutan perjalanan yang begitu jauh dan amazing, Kejutan masing-masing mendapat orang tua asuh selaku orang tua baru, kejutan tentang medan yang di lalui, kejutan dengan tempat penempatan, kejutan dengan kearifan lokal, kejutan dengan wajah-wajah masyarakat asli timur, kejutan dengan nama-nama murid di sekolah, dan banyak sekali kejutan-kejutan lain yang kita dapatkan dan menjadi pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan,.
Begitulah kira-kira......
---------------------------------------------------
Hari itu, dari ujung barat indonesia saya mulai kisah perjalanan ini, perjalanan yang belum tahu kemana ujungnya nanti, namun sementara saya akan menuju negeri timur Indonesia, di sana saya akan mengabdi dan belajar, Ya, belajar mengajar bersama mutiara hitam disekolah dan luar sekolah yang akan menjadi tempat saya menghabiskan waktu selama satu putaran kalender.
Datang, melihat sendiri bagaimana kondisi daerah dan realita pendidikan di daerah 3T, saya sadar bahwa saat itu banyak aspek dan kepakan sayap yang bisa saya lakukan dan berikan untuk negeri ini. Hal yang paling utama adalah KEIKHLASAN hati untuk MEMBERI.

Dan yang perlu kita tahu bahwa daerah 3T itu adalah daerah yang benar-benar membutuhkan pendidikan, karena mereka adalah orang-orang yang minim tentang TAHU yang mereka miliki. Dan  di sana 180 derajat berbeda dengan apa yang saya tahu, saya pikirkan, dan jalani selama ini.
Asal kita tahu bahwa pengalaman yang kita dapat justru lebih mahal dari pada apa yang kita harapkan, dan kita akan jatuh cinta. Tersadar walau tak jelas bagaimana dan apa yang terjadi di daerah 3T, saya sudah berada di sini di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal Indonesia, Flores Nusa Tenggara Timur, di akhir tahun 2012.

Dengan hadirnya  sarjana mendidik di daerah yang memang sangat membutuhkan , banyak hal yang harus di benahi sesegera mungkin, khususnya di segi pendidikan, walau saya yakin bahwa hal itu tidak mudah dan butuh kerja ekstra, tapi juga tidak semua hal bisa saya lakukan semaksimal mungkin, namun yang paling utama adalah yakin untuk mencoba dan mau melakukannya.
Memang miris dan menantang jiwa raga, itulah kondisi daerah 3T, kalau tidak siap maka hasil kehadiran saya disini akan sangat sia-sia, belaka.  Banyak halangan dan rintangan yang pasti akan di hadapi, mungkin akan terjatuh dan terperosok beberapa kali, mungkin akan merasa lelah dan mengumpat di tengah jalan, mungkin juga yang di jalani tak selalu berisi romansa, hanya dengan keyakinan dan ketulusan hatilah untuk  melakukannya walau sekecil apapun itu, hal itu akan mudah dan indah, walau di tengah keterbatasan fasilitas sekalipun, dan pengalaman itu sangat indah, tidak akan pernah terlupakan.

Maju bersama mencerdaskan bangsa, itulah Motto kami sarjana mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal. Menjadi pendidik di daerah 3T selama setahun itulah tugas saya, memang tidak mudah menjadi sosok pendidik, pendidik atau guru tidaklah sekedar mengajar di depan kelas, tapi ia haruslah seseorang yang memiliki integritas dan kepribadian yang tinggi, mampu menjadi sosok panutan yang baik, apakah itu di dalam maupun di luar kelas, dan yang paling dasar adalah memiliki ketulusan dan keyakinan untuk terus berbagi bersama menghadapi berbagai keterbatasan dan keunikan karakter anak.
------------------------------------------------
Waktu sekali putaran kelender itu tidaklah lama, hanya sementara saja, memang kalau kerinduan melanda, akan kampung halaman dan orang-orang tercinta, waktu itu sungguh sangat lama, tapi hal itu bisa di siasati dengan kemajuan zaman saat ini, walau berada di daerah 3T, sms dan telpon, atau sosial network adalah solusi utama di daerah 3T untuk melepas kerinduan terhadap mereka yang jauh di sana, itupun kalau jaringan ada, selebihnya kerinduan itu akan terbayar dengan wajah anak-anak yang dengan tulus dan lugunya memberikan senyum kepada saya setiap hari, mulai pagi hari, sapaan “selamat pagi GURU”, saya rasa tidak akan saya temukan lagi kata seperti itu nanti di daerah saya,itu sebuah kata yang membuat saya rindu dan jatuh cinta akan negeri ini, belum lagi wajah-wajah kelam dan rambut keriting mereka yang sangat unik, membuat lupa akan negeri sendiri, kebersamaan bersama merekalah pengobat rindu untuk sementara disini.

Namun, kenyataan meninggalkan semua kenangan di sini, adalah fakta yang akan terjadi, meninggalkan anak-anak didik tercinta, meninggalkan sekolah yang sudah setahun menjadi tempat saya menempa ilmu ketulusan dan pengabdian, meninggalkan daerah yang sudah menjadi seperti kampung sendiri, meninggalkan masyarakat dan orang-orang yang sudah seperti keluarga sendiri, orang-orang yang tidak pernah habis keramahtamahannya di berikan untuk saya, di jadikan sebagai bagian dari mereka, sangat berat sebenarnya meninggalkan semua ini, mungkin karena saya sudah jatuh cinta lagi, tapi apalah daya dengan penuh keterpaksaan dan kerelaan jika masanya tiba, saya harus meninggalkan semua itu, harus.

Oleh karena itu, semua tahu bahwa saya harus kembali dan tidak mungkin akan tetap di sini, namun selama berada di pelosok negeri ini, tekad sudah bulat untuk mewujudkan cita-cita anak bangsa, hanya kepastian sebuah  ketulusan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik di setiap jejak langkah yang saya lalui, harus saya lakukan, ITU SUDAH J ..!

Sebenarnya semua belum selesai  dikerjakan, banyak sekali kreativitas yang butuh pemikiran yang cemerlang, ide-ide  dan tenaga baru saat ini, dan itu sangat di harapkan dari saya di sini, khususnya di segi pendidikan dan sosial yang perlu di benahi bersama dan di jadikan lebih baik lagi, sebenarnya itu semua butuh uluran dari Guru SM3T sebelum mereka kembali.

Waktu yang hanya sementara itu, memang singkat sekali  jika kita ingin melakukan banyak hal positif, dengan terpaksa banyak agenda yang tidak bisa terealisasi, intinya banyak hal yang tidak mungkin dilakukan sekaligus semua saat ini, tapi bukan berarti kami tidak mau melakukannnya, hanya saja waktu itu terlalu singkat sekali, dan kami harus kembali. Mendesak dan minim memang, sangat tidak mungkin jika saat ini kami lakukan segalanya.

Semuanya butuh waktu lebih sebenarnya, seandainya masih ada waktu sedikit lagi, masih banyak yang harus di selesaikan, barulah bisa ikhlas dan tenang untuk meninggalkan negeri 3T ini, Semoga akan ada pengganti berikutnya yang akan menyusul dan mengisi kekosongan cahaya pendidikan di pelosok tanah air indonesia.

Dan saya sangat yakin, kita semua sudah mendapatkan tempat yang terbaik, kita sudah menimba ilmu dan memberikan ilmu yang terbaik, dan berkah. Waktu  dan diri kita akan banyak membawa manfaat untuk masyarakat sekitar. TRUST ME, IT WORK.

Saya dan teman-teman guru muda SM3T Aceh – Lembata akan kembali ke daerah asal karena di sana pendidikan selanjutnya sudah menanti, dan demi masa depan yang cerah dan bahagia semua harus di jalani dengan sebuah ketulusan. INSYAALLAH,..!!




0 komentar:

Posting Komentar