Kamis, 25 Februari 2016

Kota Tanpa Nafas

Jakarta
Aaahh.. Rasanya aku ingin segera kembali ke negeri tanah Rencong,, 
sambil menikmati secangkir kopi di depan hamparan sawah saat sang mentari akan tenggelam.

Hanya cukup rasanya dua hari saja aku berada di ibukota negara para bedebah ini,,
aku merasa penat, boring dan aahh...
Kaki ku ini berasa gatal, ingin berlari kencang dan terbang ke kotaku.

Tidak ada yang menarik dan indah sepertinya.. 
Tugu Monumen Nasional, Kota Tua, Bundaran HI, tidak bisa membuat aku betah berada di kota ini.. 
kebisingan jalan,, butiran debu, kemacetan dan sesaknya kota.
Gedung - gedung pencakar langit yang merusak pemandangan untuk menikmati indahnya bulan dan bintang...
Kota apa ini..???

Sepertinya aku merasakan kota ini, sebagai kota yang menjadikan orang yang kaya,akan kaya terus, dan orang miskin semakin terinjak oleh keganasan penguasa.
Dan aku pun terus bertanya-tanya,, kenapa kota ini begitu sesak.? 
Kenapa kota yang besar dan berjulukan ibukota negara ini, masih ada pengemis di tengah kota,,pemulung yg kelelahan, dan gembel yang berserakan.
Kenapa kota yang besar ini, masih ada tempat - tempat kumuh yang banyak sekali, bahkan berantakan..!! Aahh aku semakin bosan dengan kota ini.

Kota yang tak ada lagi udara ayem, yang rakyatnya saling mengejar waktu dengan batasan nafas terhambat masker. 
Kota yang para penguasa tak mengenal matahari dan debu, hanya bermalasan sambil keluar masuk di ruang berbuatan AC.

Tapi aku masih menyisakan penasaran, di mana titik indah dan harum udara kota ini, 
di mana ada alam yang masih menyisakan sedikit ruang untuk mengintip bintang di langit bahkan mengintip ranumnya senja. 

Namun aku masih menyisakan rindu kepada Istiqlal, Mungkin saja aku akan kembali, atau bahkan tak akan kembali lagi sama sekali.
Dan aku mau pulang.!!

Menjelang tengah malam, 
Bundaran HI, Jakarta/ 09 juli 2015