Itu namanya kita misalkan sebuah mobil Peserta PPG,
yang kita ibaratkan sesaat bahwa sopirnya adalah LPTK,, kita semua naik ke
dalam armada itu, untuk sebuah tujuan mulia, karier, masa depan, dan harapan
anak bangsa,, kita semua berharap, pihak Sopir dan kernetnya bisa membawakan
mobil itu, menuju tempat tujuan yang di harapkan, kita harapkan, dan entah mereka juga mengharapkan seperti itu,
atau tidak,!!
Yang pasti, kita semua sudah berada di dalam mobil
itu saat ini,, semua penumpang itu, beranekaragam,, ada yang bergantungan,
berteriak, ada yang duduk manis,, ada yang rusuh, saling dorong, ada yang
nakal, ada yang panik, ada yang sensitif, bahkan ada yang pasrah berada di
mobil itu, tapi masih bersyukur katanya dalam
hak yang terbaikan,, tapi ntahlah,, saya juga bagian dari penumpang itu,
yang merasakan semua yang penumpang lain juga rasakan.. intinya sama-sama
merasakan, tapi kenikmatan yang sungguh sangat berbeda..
kembali ke mobil peserta PPG unsyiah, hanya beberapa
orang dari bagian peserta PPG, yang tidak naik lagi ke mobil itu dari awal,
karena mereka punya jalan sendiri,, tapi sebagian besar yang sudah naik,membulatkan
tekad, walau kadang merasa tanggung
untuk turun, dan semua berharap mobil itu menuju tempat tujuan dengan selamat.
saat kita semua berada di mobil itu, baru kita
sadari dan kita tahu, bahwa bagaimana kondisi real dari armada yang kita tumpangi
itu, untuk menuju harapan, sertivikasi ya.??
Rupanya armada itu, mempunyai seribu satu masalah,
dan latar belakang yang sangat fenomenal, semua masalah armada besar itu ada
pada sang sopir dan kernetnya, hak kami adalah duduk di armada itu dengan baik,
dan melakukan segala intruksi yang di berikan oleh sopir dan kernetnya.
Yaa, kita semua patuh dan gembira di tahap awal
perjalan, walau kita tahu kondisi armada kita masih dalam tahap uji coba,, kami
(kita) semua mencoba mentolerir hal itu, dengan baik, dengan harapan semakin
jauh berjalan, semakin baik yang penumpang rasakan,, tapi hal itu berlawanan
arus dengan apa yang di harapkan.
Hingga kami semua berandai-andai, andaikata mobil
itu mogok atau rusak, maka kami akan turun semua bersama-sama, untuk mendorong
mobil itu supaya bisa jalan kembali ke jalan yang benar, tapi andai-andai kami
salah... mobil itu hidup dan berjalan pelan sekali, bahkan kebanyakan mobil
berhenti di jalan, dengan kondisi mesin tetap hidup, kami selaku penumpang
merasa dan menjadi serba salah, mau turun sebentar untuk rileks, takutnya mobil
nanti akan jalan, dan kami akan di tinggal, kalau kami terus berada di mobil,
sementara mobilnya hidup dalam keadaan tidak jalan,, memang HAK KAMI adalah
duduk di mobil, tapi kami juga punya rasa sosial, dan kemanusiaan, yang sudah
terpupuk waktu di negeri 3T dulu, bahkan masih akan ada sampai nanti, tapi .
Sebenarnya jalan di depan besar, sang sopir bisa
melajukan mobilnya dengan kencang, sehingga kami tidak kepanasan di dalam,,
tapi hal itu tak bisa kami audiensikan,, dengan pihak sopir dan kenet,, mereka
hanya merekomendasikan kami untuk duduk di dalam mobil itu, dan rasakan,
nikmati apa yang sang sopir dan kernet anjurkan.. walau kadang2 dengan sang
kernet kami bisa menyampaikan hal, tapi hal itu tidak menjadikan sebuah
pegangan keputusan, karena masih ada sang sopir yang memutuskan segala arah.
Nah, seiring berjalannya
waktu, kami penumpang tahu, bahwa sebelumnya sudah ada armada seperti itu di
daerah lain yang menuju ke tempat yang ingin kami tuju saat ini. Tapi kenapa
mobil yang kami tumpangi tersendat-sendat
dan seperti tak tau arah jalan menuju kesana,, kenapa sang sopir dan
kernet tidak bertanya kepada orang yang sudah pernah berjalan, kenapa sang
sopir tidak memanfaatkan fasilitas kemoderenan zaman saat ini, untuk belajar
dari pihak lain, tentang tujuan dan jalan yang ingin di capai.?? Kenapa..?? sekali lagi, tanya kenapa..?? tapi di balik
semua itu, kami tahu bahwa sang sopir malu bertanya kepada sopir lain yang
ingin menuju ke tempat itu, sang sopir mobil yang kami tumpangi ini sok tahu
dengan jalan yang ingin di tempuh, walau meraba-raba,, sang sopir tidak mau
rugi dan sedikit susah, demi sebuah nama besar ini,, mereka tidak rela
melakukan yang terbaik, dari yang baik yang sudah di tentukan dengan baik
padahal oleh pihak yang berwenang di
sana, tapi begitulah negeri kita,, Tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman.
Alahai sopir..!!
Catatan
Malam Minggu, efek seteguk kopi
Kamar F.2.08/01.45 wita, 10 Mei 2014
“Penumpang
insomnia”
Tentang sebuah Armada Peserta PPG Unsyiah.