Kamis, 22 Mei 2014

Tentang sebuah Armada Peserta PPG Unsyiah.

Itu namanya kita misalkan sebuah mobil Peserta PPG, yang kita ibaratkan sesaat bahwa sopirnya adalah LPTK,, kita semua naik ke dalam armada itu, untuk sebuah tujuan mulia, karier, masa depan, dan harapan anak bangsa,, kita semua berharap, pihak Sopir dan kernetnya bisa membawakan mobil itu, menuju tempat tujuan yang di harapkan, kita harapkan, dan  entah mereka juga mengharapkan seperti itu, atau tidak,!!

Yang pasti, kita semua sudah berada di dalam mobil itu saat ini,, semua penumpang itu, beranekaragam,, ada yang bergantungan, berteriak, ada yang duduk manis,, ada yang rusuh, saling dorong, ada yang nakal, ada yang panik, ada yang sensitif, bahkan ada yang pasrah berada di mobil itu, tapi masih bersyukur katanya dalam  hak yang terbaikan,, tapi ntahlah,, saya juga bagian dari penumpang itu, yang merasakan semua yang penumpang lain juga rasakan.. intinya sama-sama merasakan, tapi kenikmatan yang sungguh sangat berbeda..
kembali ke mobil peserta PPG unsyiah, hanya beberapa orang dari bagian peserta PPG, yang tidak naik lagi ke mobil itu dari awal, karena mereka punya jalan sendiri,, tapi sebagian besar yang sudah naik,membulatkan tekad, walau kadang  merasa tanggung untuk turun, dan semua berharap mobil itu menuju tempat tujuan dengan selamat.
saat kita semua berada di mobil itu, baru kita sadari dan kita tahu, bahwa bagaimana kondisi real dari armada yang kita tumpangi itu, untuk menuju harapan, sertivikasi ya.??
Rupanya armada itu, mempunyai seribu satu masalah, dan latar belakang yang sangat fenomenal, semua masalah armada besar itu ada pada sang sopir dan kernetnya, hak kami adalah duduk di armada itu dengan baik, dan melakukan segala intruksi yang di berikan oleh sopir dan kernetnya.

Yaa, kita semua patuh dan gembira di tahap awal perjalan, walau kita tahu kondisi armada kita masih dalam tahap uji coba,, kami (kita) semua mencoba mentolerir hal itu, dengan baik, dengan harapan semakin jauh berjalan, semakin baik yang penumpang rasakan,, tapi hal itu berlawanan arus dengan apa yang di harapkan.


Hingga kami semua berandai-andai, andaikata mobil itu mogok atau rusak, maka kami akan turun semua bersama-sama, untuk mendorong mobil itu supaya bisa jalan kembali ke jalan yang benar, tapi andai-andai kami salah... mobil itu hidup dan berjalan pelan sekali, bahkan kebanyakan mobil berhenti di jalan, dengan kondisi mesin tetap hidup, kami selaku penumpang merasa dan menjadi serba salah, mau turun sebentar untuk rileks, takutnya mobil nanti akan jalan, dan kami akan di tinggal, kalau kami terus berada di mobil, sementara mobilnya hidup dalam keadaan tidak jalan,, memang HAK KAMI adalah duduk di mobil, tapi kami juga punya rasa sosial, dan kemanusiaan, yang sudah terpupuk waktu di negeri 3T dulu, bahkan masih akan ada sampai nanti, tapi .
Sebenarnya jalan di depan besar, sang sopir bisa melajukan mobilnya dengan kencang, sehingga kami tidak kepanasan di dalam,, tapi hal itu tak bisa kami audiensikan,, dengan pihak sopir dan kenet,, mereka hanya merekomendasikan kami untuk duduk di dalam mobil itu, dan rasakan, nikmati apa yang sang sopir dan kernet anjurkan.. walau kadang2 dengan sang kernet kami bisa menyampaikan hal, tapi hal itu tidak menjadikan sebuah pegangan keputusan, karena masih ada sang sopir yang memutuskan segala arah.
Nah, seiring berjalannya waktu, kami penumpang tahu, bahwa sebelumnya sudah ada armada seperti itu di daerah lain yang menuju ke tempat yang ingin kami tuju saat ini. Tapi kenapa mobil yang kami tumpangi tersendat-sendat  dan seperti tak tau arah jalan menuju kesana,, kenapa sang sopir dan kernet tidak bertanya kepada orang yang sudah pernah berjalan, kenapa sang sopir tidak memanfaatkan fasilitas kemoderenan zaman saat ini, untuk belajar dari pihak lain, tentang tujuan dan jalan yang ingin di capai.?? Kenapa..??  sekali lagi, tanya kenapa..?? tapi di balik semua itu, kami tahu bahwa sang sopir malu bertanya kepada sopir lain yang ingin menuju ke tempat itu, sang sopir mobil yang kami tumpangi ini sok tahu dengan jalan yang ingin di tempuh, walau meraba-raba,, sang sopir tidak mau rugi dan sedikit susah, demi sebuah nama besar ini,, mereka tidak rela melakukan yang terbaik, dari yang baik yang sudah di tentukan dengan baik padahal oleh  pihak yang berwenang di sana, tapi begitulah negeri kita,, Tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Alahai sopir..!! 

Catatan Malam Minggu, efek seteguk kopi
Kamar F.2.08/01.45 wita, 10 Mei 2014



“Penumpang  insomnia”